Skip to main content

Featured

LINGUISTICS STUDENT INDONESIA PROFILE

Linguistics Student Indonesia Founded in April 2015, Linguistics Student Indonesia starts as a personal blog and continues its journey and has expanded its wings to several platforms such as Instagram, Youtube, Anchor, Facebook, ResearchGate, and LinkedIn. Linguistics Student Indonesia is currently non-profit and represents its founder's personal brand. The idea of creating Linguistics Student Indonesia emanates when Suci Wulan Lestary as a Founder of this blog encounters a lot of difficulties in learning Linguistics as her specialty in college. So, she started to build Linguistics Student Indonesia while hopes that this platform could help to spread her values as a passionate individual who is attracted to linguistics as she took Indonesian Linguistics specialty as her major in college. Besides linguistics, she would also love to share her meaningful life experience. That's why the tagline: makes little things matter by learning through experience. *** Current Interest

KENAPA KITA INSECURE DAN BAGAIMANA CARA MERAIH EMOTIONAL SECURITY?

Estimasi Waktu Membaca: 9 Menit 52 Detik
Become a Supporter of Linguistics Student Indonesia

DISCLAIMER: 
TULISAN INI KUTULIS BERDASARKAN PENGALAMAN PRIBADIKU. DI SINI, AKU TAK BERMAKSUD MENGGURUI SIAPAPUN DAN AKU BUKAN PSIKOLOG/PSIKIATER. JADI, PLEASE, BE WISE ENOUGH. AKU HANYA INGIN BERBAGI SUDUT PANDANG SEBAGAI SEORANG TEMAN. THANK YOU! 😉


PENYEBAB INSECURE (LOW EMOTIONAL SECURITY)

Aku melakukan analisis terhadap pengalamanku sendiri, setidaknya ada tiga hal yang mungkin menjadi dasar mengapa seseorang bisa insecure. 

Pertama, orang itu berada dalam situasi yang penuh tekanan
Dalam kasusku, aku berada dalam situasi baru yang memaksaku untuk menjalankan peranku sebagai orang dewasa seutuhnya, aku pelan-pelan menyadari kehidupan yang sesungguhnya. Aku dibesarkan dalam keluarga yang penuh perhatian, sejak kecil aku jarang menyelesaikan masalahku sendiri, aku selalu hidup dalam dukungan moral dan limpahan kasih sayang dari keluargaku. Namun, seiring waktu berlalu, aku mulai menemukan masalah-masalah yang menurutku hanya aku sendiri yang berhak menyelesaikannya, karena ini menyangkut pilihan hidupku sebagai individu. Aku memahami bahwa kelak, aku tidak akan selalu didampingi keluargaku. Jadi, aku perlu memiliki kemampuan bertanggung jawab penuh terhadap keputusan yang kuambil dalam hidupku. Pada saat itu, ada keputusan besar yang perlu kuambil. Hal tersebut membuatku masuk ke dalam situasi yang penuh tekanan. Di situlah aku mulai merasa kehilangan sedikit demi sedikit rasa aman dalam diriku atau para pakar menyebutnya dengan emotional security.

Kedua, orang itu tidak mengenal dengan baik siapa dirinya. 
Jika diibaratkan, seorang individu itu adalah gelas. Mental-bandwidthnya adalah volume gelas (baca tentang mental bandwidth di sini). Pola pikirnya, nilai-nilai yang dianut dalam hidupnya, keputusan serta visi-misi yang dipilihnya adalah benda-benda yang masuk ke dalam gelas tersebut. 

Jadi, begini analoginya untuk orang yang insecure: dia mungkin tahu bahwa dirinya adalah gelas, tetapi dia tidak pernah tahu benda apa yang masuk ke dalam dirinya. Dia tidak pernah tahu seberapa besar kapasitasnya, apa pengaruhnya jika benda itu tinggal dan menetap di dalam dirinya. 

Menurutku, rendahnya self-awareness ini adalah salah satu faktor krusial yang memperburuk keadaan seseorang ketika dia menemukan masalah atau kesulitan yang menciptakan tekanan dalam hidupnya. Jika seseorang tidak mengenal siapa dirinya, dia membuka peluang bagi orang lain (baik secara sadar atau tidak) untuk membentuk atau bahkan mengacaukan self-imagenya (cara dia berpikir dan memandang dirinya), dan hal yang paling fatal adalah jika dia tidak segera menyadarinya, dia akan memiliki low self-esteem dan low self-confidence, sehingga dia menjadi mudah dikendalikan orang lain dalam pengambilan keputusan, dia akan mencoba menyenangkan semua orang, dia akan hidup di bawah ketakutan terhadap opini orang lain, dia akan mengalami masalah kepercayaan diri, dan sulit mengambil keputusan. Hal itu dapat berlangsung sementara atau bahkan yang paling fatal, SEUMUR HIDUPNYA. Memiliki kesadaran diri yang rendah sungguh merugikan dan membahayakan. Oleh karena itu, wawasan tentang bagaimana dan apa fungsi self-image perlu dipelajari. Untuk mempelajari bagaimana self-image bisa dikendalikan untuk kepentingan pribadi dan orang lain, kamu bisa membacanya di dalam buku Psychocybernetics karya Maxwell Maltz.

Ketiga, orang tersebut belum mencoba menganalisis dan menyaring lingkungan sekitarnya.
Menganalisis dan menyaring siapa yang patut berada di sisimu sangat penting, karena pola pikir atau mindset serta kebiasaan seseorang dipengaruhi oleh orang-orang terdekatnya. Bisa teman, keluarga, pasangan, rekan kerja, saudara, tetangga, atau siapapun itu. Dalam hal ini, sebagai individu kita bisa melakukan analisis terhadap orang-orang yang kita izinkan untuk dekat dengan kita. Namun, dibutuhkan wawasan, komitmen, konsistensi, dan kontinuitas, karena karakter atau sifat setiap manusia itu unik dan ada akarnya, tetapi perilaku manusia itu beragam serta dinamis (bisa berubah). 

Kita perlu berhati-hati dalam melakukan hal ini, karena ini menyangkut hubungan kita dengan orang lain. Aku telah memulainya dengan mempelajari apa yang menjadi fitrah atau sifat-sifat bawaan/natural manusia. Mempelajari hal itu membantuku dalam melihat dan menyaring apakah seseorang yang kukenal memiliki sesuatu yang kiranya menyimpang dari visi-misiku. Karena tidak munafik, sebagai manusia, aku memiliki tujuan dalam hidupku yang mesti kuraih, aku harus memberi batasan dan mengatakan tidak pada mereka yang tidak sejalan denganku.

Aku mempelajarinya dari dua sudut pandang. Pertama, sudut pandang agama, aku akan terus berusaha mempelajari kitab suci Al-Qur'an, dan aku melihat bagaimana agamaku memandang manusia. Kedua, ilmu pengetahuan dunia. Ada banyak buku yang kubaca mengenai hal ini, sejauh ini, yang terbaik menurutku adalah The Laws of Human Nature karya Robert Greene. 

Dibutuhkan ketegasan dalam membangun batasan terhadap orang-orang yang tak ingin kamu hadirkan dalam lingkaranmu. Kamu bisa membatasi hubungan dengan mereka, tanpa membenci mereka. Bahasa mudahnya, cukup kenal dan berjalan berdampingan saja. Tidak perlu ada kedekatan secara emosi.

Dalam hidup ini, menurutku sebenarnya kamu tidak memerlukan kehadiran banyak manusia di dekatmu. Sekali lagi, meskipun begitu, kamu memerlukan kehati-hatian agar tidak salah dalam mengambil keputusan. Bangunlah kedekatan emosional dengan beberapa orang saja, mereka yang kehadirannya dapat membuatmu menjadi dirimu yang sejati, mereka yang memiliki energi yang tulus, karena ketika orang lain mencintaimu dengan tulus, hatimulah yang akan merasakannya. Entah bagaimana, kamu akan mengetahuinya. Pilihlah orang-orang yang membawamu kepada kehidupan yang lebih baik, kehidupan yang kamu inginkan. 

***
Setelah aku mempelajari self-image psychology, aku berhasil mengenal dan menemukan diriku yang sejati serta mampu memahami bagaimana emotional security bekerja di dalam diriku.

Menurutku, mempelajari self-image psychology sangat substansial bagi setiap individu agar mereka tidak menjadi seorang people pleaser yang insecure.

Sebelum lanjut, kamu juga bisa menemukan kisah inspiratif dari sahabatku Pertiwi Yuliana, klik di sini.

BAHAYA YANG DITIMBULKAN ORANG INSECURE

Tahukah kamu, sebenarnya ada sebagian orang yang tidak sadar bahwa dirinya sedang mengendalikan orang lain?

Yup, begini, orang tersebut tidak sadar bahwa dirinya sedang mengendalikan orang lain. Hal ini diakibatkan karena orang tersebut memiliki emotional security yang rapuh (insecure). 

Jika insecurity dalam diri tak segera disadari dan dibenahi, maka dapat membahayakan orang lain, karena orang yang insecure bisa membuat orang lain menjadi insecure juga.

Benar, insecurity bisa menular kepada orang lain. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membangun relasi dengan diri sendiri untuk meningkatkan kesadaran diri mengenai hal tersebut.

Selanjutnya, bagaimana mungkin menjadi insecure itu berbahaya? Menurut ahli, orang yang insecure dapat memanifestasikan hal berikut ini: perasaan insecure dalam diri membuatnya merasa takut kehilangan koneksi dengan orang lain, rasa itu mendorongnya secara tidak sadar untuk mengendalikan orang lain, yaitu dengan cara protes dan menuntut orang lain agar selalu menjalin kedekatan emosional dengannya agar dia merasa berharga.

The presence/absence of security in adulthood appears most clearly in stressful situations. In a situation of danger a grown man being afraid of losing the object of attachment will protest and seek closeness with significant others to maintain his confidence. (Olga Yu. Zotova dalam artikel Emotional Security of People, 2015: 1882)

Singkatnya, mereka membutuhkan keberadaan dan pengakuan dari orang lain untuk memvalidasi bahwa mereka berharga. 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah menemukan atau setidaknya mendengar kisah tentang orang-orang yang seperti berikut ini:

TAKUT DITINGGALKAN
"kamu kemana aja sih kok gak nemenin aku!" 
"kamu gak boleh main sama mereka, mainnya sama aku aja!"

(artinya: mereka takut ditinggalkan dan takut tidak lagi mendapatkan kedekatan emosional darimu, karena jika itu terjadi, mereka akan kehilangan rasa berharga dalam dirinya)

PENGARAH PENAMPILAN DAN STATUS
"kamu gak ganti hp? ganti dong yang bagus, kan banyak tuh model terbaru,"
"ih, kamu pakai baju dong yang bagus jangan malu-maluin aku!", 
“kalau di keluarga aku sih, harus banget kuliah sampai tinggi ya, minimal sarjana deh,”
“kamu harus jadi anak yang membanggakan ya, kalau gak, duh bakal malu sama tetangga,”

(artinya: mereka tidak menerima diri mereka secara utuh, orang-orang ini peduli opini orang tentang penampilan mereka dan orang terdekat mereka. oleh karena itu, mereka akan mati-matian mempertahankan image mereka soal penampilan dan status sosial, untuk menutupi kekurangan mereka yang lain. mereka membutuhkan kedekatan emosional dengan orang-orang terdekat dalam hal memvalidasi rasa berharga, jadi, mereka menuntut agar orang yang dekat dengan mereka tersebut untuk tidak menghancurkan image baik yang telah mereka bangun)

AHLI KEBUGARAN
"kamu kok keliatan kurus sih sekarang? kurang makan ya?",
"ih udah lama ga ketemu, gendutan deh!" 
"kok bisa sih jerawatan gitu?"

(artinya: mereka membuat orang lain untuk juga fokus memandang fisiknya, karena dia ingin orang lain merasakan kekhawatiran yang sama dengan yang dia rasakan tentang fisiknya)

Anyway, lihat juga bagaimana kisah inspiratif dari sahabatku Putri Azka mengenai body shaming, klik di sini

SURUH NYUSUL
"aku aja udah nikah dan punya anak, ayo dong, kamu juga nyusul," 

(artinya: mereka menganggap pernikahan dan punya keturunan sebagai prestasi, sehingga mereka merasa semua orang perlu meraihnya juga, padahal tak semua orang menginginkan pernikahan. membanggakan status dilakukan karena hal tersebut digunakan untuk menutupi insecurity mereka dalam hal lain)

PENASIHAT KARIER
"kamu kerja kayak gitu emang menghasilkan? kenapa gak cari kerja yang settle aja? bahaya loh, kebutuhan makin banyak, eh, tapi, emang dapet berapa kalau kerja kayak kamu?"

(artinya: mereka menjadi lupa bahwa rezeki dijamin Tuhan, orang insecure seringkali lupa bahwa ada kekuatan lain selain kekuatan diri seseorang, yaitu kekuatan Tuhan, dan mereka sebenarnya insecure kalau-kalau kamu bisa lebih sukses dari mereka secara finansial)

Orang-orang insecure kerap membangun wrong emotional attachment dengan orang lain. Selain itu, jika dianalisis kembali, mereka tak hanya membangun wrong emotional attachment, tapi instead of being neutral / berdiri di tengah dan fokus mengembangkan kehidupan mereka sendiri, mereka malah sibuk menunjukkan bahwa dirinya paling spesial dan merasa berhak menentukan arah atas pilihan hidup orang lain (feel entitled).

Hal tersebut mereka lakukan tanpa sadar dengan orang-orang yang mereka anggap mampu memberikan rasa aman (security) kepada mereka. Mereka melakukan hal-hal seperti itu, karena hanya dengan cara itulah mereka merasa mendapatkan kembali rasa percaya dirinya. 

Yang menjadi masalah, biasanya yang jadi korban orang insecure adalah orang-orang terdekatnya seperti orang tua, pasangan, anak, saudara, teman dekat, rekan kerja, dan seterusnya. Karena mereka dianggap sebagai orang yang bisa memberikan ketenangan batin bagi si insecure ini. Nah, yang lebih bahaya lagi, orang-orang terdekat tadi, bisa menjadi korban (apabila mereka tidak punya cukup pemahaman tentang dasar-dasar self-image psychology tentang proyeksi diri). Orang-orang terdekatnya ini akan mulai merasa ada yang salah dengan dirinya akibat "pengendalian" yang dilakukan oleh si insecure tadi. 

Itulah mengapa aku sangat tertarik mempelajari self-image psychology, karena apabila aku menemukan seseorang yang insecure dalam lingkaran terdekatku, aku sanggup memilih antara harus bertahan atau membatasi interaksiku dengannya.

***

BAGAIMANA CARA MEMILIKI EMOTIONAL SECURITY?

Untuk mengetahui cara agar kita memiliki emotional security, kita harus mengenal dulu bagaimana ciri orang yang memiliki emotional security. Berikut adalah beberapa karakteristik seseorang yang memiliki emotional security menurut (Mikulincer & Florian, 1998):

1. Senang melakukan eksplorasi diri;
2. Tingkat toleransi yang tinggi terhadap ketidakpastian, ketidakteraturan, dan ambiguitas (oleh karenanya, dia bersikap netral, fokus mengembangkan dirinya, tidak merasa spesial/tidak memerlukan validasi orang lain);
3. Enggan menyetujui keyakinan yang kaku (fleksibel);
4. Keterbukaan terhadap fakta, peluang, dan informasi baru; 
5. Memiliki pandangan positif terhadap diri sendiri (menghargai diri sendiri dan menerima kelebihan serta kekurangan diri sendiri);
6. Sikap yang optimis dan percaya terhadap kehidupan;
7. Memiliki kemampuan mengungkapkan emosi dengan baik dan terarah;
8. Memiliki ketahanan emosi dalam menghadapi tekanan dan masalah.
 
INGAT! TIDAK ADA ORANG YANG LAHIR MEMBENCI DIRINYA SENDIRI

Aku terinspirasi dengan sosok Gary Vaynerchuk sejak lama. Aku benar-benar menonton hampir semua konten-konten beliau dan membaca buku yang ditulisnya. Gary adalah salah satu tokoh pengusaha yang banyak memberikan motivasi, tak hanya soal entrepreneurship, tetapi juga memberikan wawasan tentang self-development. Waktu itu, aku menonton Dailyvee di YouTube dan Gary membahas sebuah topik menarik, yaitu tentang emotional insecurity.

From Gary Vaynerchuk Youtube Channel - Dailyvee 523 


Menurut Gary, tidak ada satupun orang yang lahir ke dunia dibekali dengan kemampuan membenci dirinya sendiri. Jadiinsecurity bisa terbentuk entah karena keadaan, lingkungan, atau ada orang lain yang memang baik secara sengaja atau tidak sengaja menanamkan rasa insecurity kepada orang tersebut seperti yang tadi sudah kujelaskan pada bagian sebelumnya. Oleh karena itu, aku berusaha sekali dalam hidup ini mengenali setiap emosi-emosi yang kurasakan serta dampaknya kepada diriku sendiri agar aku tidak memproyeksikan emosi negatifku kepada orang lain dan menularkan insecurity

Kunci utama dari emotional security adalah:

1. Mampu fokus kepada kelebihan dirimu dan menerima kekurangan dirimu sendiri. Self-acceptance is the key! Menerima kelebihan memang mudah, tetapi belajarlah menerima kekurangan dirimu. Bagaimana caranya? Berhentilah memandang rendah dirimu, berhentilah mengasihani dirimu, kamu punya kesempatan yang sama dengan orang lain, daripada energimu dipakai untuk mengasihani dirimu, kamu bisa pakai energimu untuk terus mengembangkan dirimu. Kamu sebenarnya sudah tahu apa yang perlu kamu lakukan. Do it fear, do it alone, do with what you have, it's all worth it! Kamu akan menjadi tak terkalahkan. 

2. Jangan terlalu dini menilai dirimu, kamu bukan tersesat dalam hidup ini, kamu hanya baru memulai prosesnya. Pelan-pelan saja, berbicaralah pada dirimu seperti kamu berbicara pada orang yang kamu cintai. Nikmati prosesmu.

3. Ingat, jika kamu merasa gagal, orang-orang tidak akan sepeduli itu pada kegagalanmu, orang lain juga punya masalah hidup mereka sendiri, mereka juga sibuk bertahan hidup, dan tidak ada orang yang benar-benar spesial dan beruntung. Kita semua hanya menghadapi kemalangan yang berbeda. Bahkan, orang yang kamu anggap sukses juga terus berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan baru dalam hidupnya. 

4. Kelola emosi negatifmu dengan baik. Salah satu komponen emotional security adalah mampu memprediksi serta mengatasi emosi-emosi negatif dan perasaan tidak nyaman. Hal ini dapat berbeda di setiap individu, aku pribadi mengatasinya dengan menulis diary, meditasi, workout, jalan kaki, dan mandi air hangat. Makanya kalau di film, kita suka lihat ada orang yang tiba-tiba menjadi terkenal kemudian dia malah shock dan stress, karena sebenarnya peningkatan taraf hidup hanya akan menjadi menyenangkan apabila seseorang memiliki pengelolaan diri yang baik. Jika tidak, seseorang akan tetap kesulitan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam hidup ini. 

4. Bersabarlah dengan dirimu sendiri, setiap individu memiliki keunikan, tidak worth it jika kamu membandingkan dirimu dengan siapapun di dunia ini. Buanglah jauh-jauh konsep tentang menjadi sama kayak orang-orang. Pertanyaannya adalah orang-orang yang mana? Karena konsep itu mustahil, tidak akan ada seorangpun yang bisa benar-benar sama meski mereka kembar sekalipun. Maka, ada satu cara menghilangkan kompetisi, yaitu dengan menjadi dirimu sendiri. Karena takkan ada yang sebaik kamu menjadi dirimu dan takkan ada yang sebaik aku menjadi diriku.

Dalam pengalamanku, saat aku telah memiliki emotional security, aku menjadi pribadi yang lebih fokus terhadap diriku sendiri, bersikap netral, memberi ruang pada setiap kemungkinan, tidak ikut dalam perdebatan yang tidak penting, dan mulai memaknai nasihat sederhana ini: bahagia itu ada di dalam dirimu sendiri, kuncinya adalah menerima kekurangan diri. Instead of complaining why this and why that, change your mindset, if you want something, make yourself work for it, live your life, be straightforward, go tell people how they made you feel, katakan tidak jika kamu tidak nyaman dengan sebuah keputusan, batasi hubungan yang tak relevan dengan visi-misimu tanpa membenci orang lain, dan jangan berandai-andai menjadi sosok yang kamu inginkan, karena kamu sebenarnya sudah menjadi sosok itu, kamu hanya perlu meningkatkan usahamu sehingga kamu berada dalam tahap yang lebih baik! 😉

Oke, itu tadi yang bisa kubagikan hari ini. Semoga kamu yang membaca ini dapat terinspirasi dan mendapatkan manfaat dari tulisanku. Terima kasih sudah berkunjung dan menghadiahkan waktumu yang berharga untuk membaca tulisan-tulisanku! Love you! :)

 

I highly appreciate your visit to the Linguistics Student Indonesia website. 


Gift for you!

My Published Book

Let's build a network! Connect with Linguistics Student Indonesia:

Paid Partnership & Business Inquiries:
linguistics@post.com

Comments

  1. gue ketampol berkali-kali ngeliat postingan ini. makasih yak!!! :'((((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks as well sis udah mampir baca tulisan aku yang panjang kali lebar 😭 so sweet banget! Gak ada kado yang lebih indah daripada waktu yang kamu luangkan untukku, sehat dan bahagia selalu ya, Uti. Semoga kita selalu bisa saling dukung ke arah yang lebih baik. Much Love!🥰♥️

      Delete
  2. Kalau tulisan ini gak pake disclaimer dan gue bukan orang yang kenal sama lo dan tau background lo, gue rasa gue akan beneran menganggap kalo lo ahli dalam dunia psikologi. Rapi dan Informatif banget woe gilssss! Makasih pencerahannya :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Tiwi udah menghadiahkan aku waktumu dengan mampir ke sini dan baca tulisan akuuu 🥰♥️ MasyaAllah! Alhamdulillah! Kusedang rajin baca buku-buku psikologi tiw hahahah jadi bersemangat pas bisa curhat begini. Sehat dan bahagia selalu ya, Tiwi. Sayang kamu selalu! 😘

      Delete

Post a Comment

Most Visited Articles