Skip to main content

Featured

LINGUISTICS STUDENT INDONESIA PROFILE

Linguistics Student Indonesia Founded in April 2015, Linguistics Student Indonesia starts as a personal blog and continues its journey and has expanded its wings to several platforms such as Instagram, Youtube, Anchor, Facebook, ResearchGate, and LinkedIn. Linguistics Student Indonesia is currently non-profit and represents its founder's personal brand. The idea of creating Linguistics Student Indonesia emanates when Suci Wulan Lestary as a Founder of this blog encounters a lot of difficulties in learning Linguistics as her specialty in college. So, she started to build Linguistics Student Indonesia while hopes that this platform could help to spread her values as a passionate individual who is attracted to linguistics as she took Indonesian Linguistics specialty as her major in college. Besides linguistics, she would also love to share her meaningful life experience. That's why the tagline: makes little things matter by learning through experience. *** Current Interest

FUNGSI MENTAL BANDWIDTH DAN 5 CARAKU MEMBANGUN KETAHANAN EMOSI

Estimasi Waktu Membaca: 7 Menit 26 Detik
Anyway, click here to buy me a coffee!

Halo, apa kabar? Semoga kebahagiaan dan kesehatan selalu memelukmu erat! Anyway, terima kasih sudah mampir ke sini dan sudah ikhlas memberiku hadiah, yaitu waktumu yang berharga! Aku bersyukur sekali tulisanku dibaca kamu 😇

PROLOG

Dalam kehidupan nyata, penguasaan emosi yang baik sangat menguntungkan bagiku. Aku kini menjadi lebih sehat, bahagia, dan produktif. 

Meski hidupku belum genap seperempat abad, tetapi aku pernah merasakan titik terendah dalam hidupku. Dua tahun yang lalu, aku rasa alam bawah sadarku meledak, deh! Hahaha. Karena aku sering menekan emosi negatif di dalam diri. Cerita tentang itu bisa kamu baca di sini.

Berawal dari sana, aku belajar untuk tidak menyerah dan menjadi budak emosiku sendiri. Saat itu, aku amat rentan dan mudah masuk ke dalam lingkaran emosi, terutama perasaan yang mengajak untuk memikirkan kemalangan diri sendiri.

Pada saat sendirian atau di malam hari sebelum tidur, aku sering memikirkan banyak hal dan bagiku kegiatan seperti itu lama-lama membuatku merasa ada yang salah. Aku merasa ada yang salah karena dalam benakku, aku tahu bahwa kegiatanyang saat ini banyak disebut sebagai overthinking iniadalah kegiatan yang sebenarnya tidak berguna dan membuang-buang waktuku saja, tetapi di lain sisi, jika aku terus melakukannya, pasti ada sesuatu yang memicunya.

Aku bersyukur, pada saat itu, emosiku memang sangat rentan, tetapi aku sadar bahwa aku harus keluar dari keadaan itu. Singkatnya, aku selalu mencari jawaban mengapa aku selalu overthinking sampai kadang aku tidur pagi. Jawabanku adalah aku menjebak semua pikiran itu di dalam kepalaku, dan tidak mengungkapkannya, itu juga salah satu penyebab mengapa emosiku menjadi kacau. 

Begini, setiap manusia punya pikiran dan raga yang saling terhubung. Apa yang dilakukan raga manusia adalah cerminan dari pikirannya. 

Pada saat mencari jawaban, aku baru ingat, waktu kuliah dulu, aku sempat belajar tentang psikoanalisis. Aku belajar bahwa emosi negatif seperti amarah, kesedihan, cemburu, takut, dan berbagai perasaan tidak nyaman lainnya tidak baik apabila hanya disimpan dalam benak saja, semua perasaan itu harus disalurkan dan diungkapkan. Tentu saja bukan ke orang lain, ya. Tapi, pasti ada caranya. 

Jadi, setelah aku pelajari kembali, memang jiwa manusia punya yang namanya mental bandwidth. 

We use the term “bandwidth” to refer to two broad, related components of mental function. The first might be referred to as cognitive capacity, the psychological mechanisms that underlie our ability to solve problems, retain information, engage in logical reasoning, and so on. Perhaps the most prominent in this category is fluid intelligence, the ability to think, and reason abstractly, and solve problems. The second is executive control which underlies our ability to manage our cognitive activities, including planning, attention, and initiating and inhibiting actions. Cognitive capacity and cognitive control are multifaceted. (1)

Mullainathan dan Shafir dalam Scientific American Mind (Majalah Sains Populer asal Amerika Serikat) merujuk mental bandwidth ini ke dalam dua istilah umum yang berhubungan dengan komponen-komponen dari fungsi mental. 

Pertama, istilah ini merujuk kepada kapasitas kognitif, atau mekanisme-mekanisme psikologis yang mendasari kemampuan kita untuk memecahkan masalah, menyimpan informasi, terlibat dalam penalaran logis, dan lain sebagainya. Mungkin yang paling menonjol dalam kategori ini adalah kecerdasan yang mengalir, kemampuan untuk berpikir dan bernalar secara abstrak dan memecahkan masalah. 

Kedua, istilah ini merujuk kepada kontrol eksekutif, yang mendasari kita kemampuan untuk mengelola aktivitas kognitif kita, termasuk perencanaan, perhatian, dan memulai dan menahan tindakan. Dalam hal ini, kapasitas kognitif dan kontrol eksekutif memiliki banyak bagian.

The second component of bandwidth is executive control, a kind of central processor for the brain. One of the many important functions to which it contributes is self-control. Because executive control helps to direct attention and modulate impulses, reduced executive function will hamper self-control. (2)

Lebih lanjut tentang komponen kedua dari mental bandwidth tadi, yaitu kontrol eksekutif, atau sebuah prosesor di otak manusia. Salah satu dari banyak fungsi dari kontrol eksekutif tadi adalah self-control atau pengendalian diri. Karena kontrol eksekutif ini membantu seseorang mengarahkan perhatiannya, memodulasi rangsangan, apabila fungsi kontrol eksekutif ini berkurang, maka akan menghambat pengendalian diri seseorang.

Nah, setelah aku memahami istilah mental bandwidth tersebut, aku semakin sadar bahwa emosi yang kacau, kemampuan berpikir dan mengendalikan diri yang kurang, ada kaitannya dengan menurunnya kapasitas kognitif yang mengatur pikiranku karena terganggu oleh emosi-emosi negatif yang ku tekan, dan gak pernah aku ungkapkan. Lalu, bagaimana aku meningkatkan kapasitas kognitifku lagi dan mengembalikan kontrol eksekutif (self-control)? 

Ini dia 5 caraku membangun ketahanan emosi:

1. Menjadi seorang essentialist

Menjadi seorang essentialist mengubah cara pandangku terhadap pengambilan keputusan, sehingga aku menjadi fokus terhadap hal-hal yang sudah semestinya menjadi perhatianku. Di era ini, perhatian kita perlu diproteksi. Bagiku, menyoroti seseorang atau sesuatu yang seharusnya tidak perlu kuberi panggung dan spotlight adalah sebuah kemunduran dalam berpikir. Setelah menjadi essentialist, aku juga selalu menerapkan mindful living, jadi segala sesuatu yang kutulis, kubaca, dan kulihat di media sosial dan dunia nyata seluruhnya adalah seratus persen karena hal-hal itu berhak mendapatkan perhatianku. 

Perhatian itu mahal, makanya salah satu mentorku bilang juga "Di era digital ini, kalau kamu nggak memonetisasi perhatian orang, kamu yang perhatiannya dimonetisasi," artinya apa? Media sosial sekarang bisa sangat menguntungkan, seperti menulis di website, jadi youtuber, berjualan online, semuanya membutuhkan perhatian seseorang. Itu juga yang membuatku lebih suka menulis di website dan bercerita di Youtube daripada update status. Karena kanal-kanal tersebut menghasilkan. Nggak hanya tentang uang, tapi juga sebagai salah satu wahana melatih skill baru dan menambah koneksi.

Orang-orang datang ke internet untuk mendapatkan cerita, manusia memang pada dasarnya menyukai cerita, apalagi cerita hidup orang lain, ya untuk jadi referensi, untuk inspirasi, atau untuk kesenangan semata saja karena manusia mahluk sosial. Dengan hal itu pula aku berterima kasih karena kamu mau baca tulisanku ini, kan kamu menyumbang trafik webku hehehehe.

Hal lain, misalnya saja dalam pengambilan keputusan, jika keputusan itu tidak berpengaruh dalam jangka waktu 5 tahun ke depan, maka aku tidak perlu memikirkannya lebih dari 5 menit. Menjadi essentialist membuatku mampu mengurangi kebiasaan buruk menunda, jika suatu hal dapat dilakukan dalam waktu kurang dari 2 menit, maka kulakukan sekarang saja. Menjadi essentialist dapat dimulai dengan tindakan sederhana seperti berani menolak dan mengatakan "tidak" pada orang-orang serta hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai hidupku. Ada sebuah buku tentang menjadi essentialist, silakan cari tau di sini.

2. Rajin mengungkapkan emosi dan perasaan

Baru-baru ini, aku melihat sebuah kutipan di Twitter orange book (kalau tidak salah). Jangan menahan rasa sakit, tapi belajarlah untuk menerima rasa sakit, maka hidup akan memberimu kejutan. Aku setuju, karena pada saat aku menekan emosi negatifku, aku merasa amat kacau, karena alam bawah sadarku terganggu dengan kehadiran emosi-emosi itu. Ini juga menjadi penyebab kenapa aku suka sedih tanpa alasan. Namun, aku menemukan cara untuk mengatasinya, aku melakukan journaling setiap hari. Aku menulis apa saja, biarkan saja semua perasaan mengalir, jujur pada diriku tentang rasa sakit, amarah, kesedihan, kebencian, keletihan, kucurahkan semuanya. Tidak ada satupun emosi negatif yang ku tinggalkan, kadang kala aku menulis sambil menangis, tetapi semuanya sangat membantu. Aku masih ingat, tanggal 15 maret 2020 aku merasa seperti sembuh dari rasa sakit, dan kembali mengenal diriku lagi. 

Juga, saat amarah menghampiri, aku melatih diriku untuk menanyakan kepada diri sendiri. Apa yang membuatku bisa sampai semarah ini? Tindakan itu seringkali menyelamatkanku dari amygdala block. Amygdala adalah pusat emosi di otak manusia, kalau seseorang marah, amygdala mengambil peran besar dalam menyalurkan emosi itu. Jadi, sebelum aku tertipu amygdala, aku tanyakan kepada diriku, mengapa aku harus marah? Biasanya, setelah bertanya, amarahku dapat kukendalikan. Dari sana aku mulai mengenal diriku, apa saja hal-hal yang melemahkanku, membuatku marah, sedih, takut, dan bingung. Bagiku, mengenal diriku sendiri sangat berperan dalam membangun ketahanan emosi, agar aku tidak mudah dipengaruhi apalagi ditipu orang lain, juga agar aku tidak tertipu oleh emosi sesaat.

4. Sumber kebahagiaan 

Ada suatu hari di mana aku tidak bisa percaya kalimat ini: sumber kebahagiaan datangnya dari diri sendiri, bukan dari orang lain, atau uang, atau barang, atau apapun yang ada wujudnya di dunia ini. Aku akan mengatakan:

"Lah, bagaimana mungkin? Toh, misalnya saja, aku bahagia apabila ada yang memberiku uang, aku senang dengan kehadiran orang-orang yang mencintaiku,"

Tetapi, sekarang aku sadar, bahwa sumber kebahagiaan memang berasal dari diriku sendiri, seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari makna kalimat-kalimat sederhana seperti itu. Makna dari kalimat itu adalah bahagia hanya akan muncul, jika kamu menerima diri sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Jika kamu sudah menerima keduanya, mau sendirian atau bersama orang lain, mau banyak uang atau sedikit uang, mau dikasih barang apapun, kamu akan tetap bahagia alias kaga ngaruh apapun kondisinya. 

Bagiku, penerimaan diri dimulai dengan yakin bahwa apapun yang aku terima dan jalani di hidup ini, adalah gabungan dari takdir dan seratus persen pilihanku.

Kelebihan mudah diterima, tetapi kekurangan diri? Tentu butuh proses. Gak apa-apa, sabar saja. Kuncinya terus mencoba, percaya deh, kalau terus mencoba, seseorang akan tau bagaimana cara yang pas untuk menerima siapa dirinya. 

Caraku bisa menerima kekurangan diri adalah dengan mengingat bahwa seluruh hidupku sudah ditulis, dari awal sampai akhir, ada yang dapat kuubah dan ada yang tidak. Aku hanya bisa berdoa dan berusaha, misalnya aku menemui kegagalan, yang selalu aku tanamkan adalah setidaknya aku tahu mengapa aku gagal, dan memang, aku memastikan kembali bahwa keputusanku untuk mengambil suatu jalan adalah seratus persen keinginanku. Aku tidak dapat menyesal apabila aku gagal di atas pilihanku, bukan gagal by default karena aku pasrah, atau aku gagal karena ada orang lain yang menyuruhku mengambil suatu jalan.

Nah, dengan cara-cara tadi, aku menemukan bahwa ada hal-hal yang memang di luar batas kendaliku, tetapi aku wajib tahu tentang usaha-usaha yang kulakukan dan keputusan-keputusan yang kuambil, sehingga pada saat ada kemalangan, aku bisa tetap mensyukurinya dan bergerak maju. Yak, yang penting maju, karena keyakinanku, kalau aku masih bernapas tandanya masih ada kesempatan. Lagipula, tidak ada orang yang beruntung di dunia ini, semuanya menerima kemalangan, hanya saja kemalangannya berbeda. 

5. Sehat raga dan pikiran

Olahraga dan baca buku itu kunci menjaga kesehatan raga dan pikiran. Sebelum aku rutin workout, aku sering merasa mules, migrain, moody, dan pegal-pegal kalau sedang pra menstruasi, tetapi sekarang aku tidak merasakan hal itu, luar biasa! Juga karena workout, aku merasa bugar setiap bangun tidur, mendapatkan kualitas tidur malam yang baik, dan merasa nafsu makan jadi lebih baik. Ya, aku olahraga memang untuk menaikkan berat badan, hehehe. Jadi selama ini sedih-sedih dan marah nggak jelas, salah satunya karena suka overthinking, lalu jadi begadang, lalu hormon di tubuhku jadi gak jelas menerima perintah dari otak, karena hormon-hormonku ini bingung, makanya aku jadi moody. Olahraga rutin juga membuatku jauh dari label kaum rebahan, pegal-pegal dalam hidupku ternyata karena aliran darah tidak lancar. Hahay.

Thanks kepada utiazka dan pertiwiliana yang sudah selalu jadi mental support aku untuk rutin workout! 💓

Terus, kalau sehat pikiran aku raih dengan journaling, karena dengan menyalurkan pikiran-pikiran yang mengganggu, dapat meningkatkan fokus kita pada hal-hal yang lebih penting untuk dipikirkan, journaling membersihkan ruang di dalam alam bawah sadarku, dan membantuku mencapai mental clarity. Journaling nggak mesti nulis ya, bisa juga rekam voice note, vlog, sketching, dan masih banyak saluran lainnya. Selain itu, banyak membaca buku-buku self-improvement. Belum lama ini ada yang tanya sama aku, 

"Ci, kalau baca buku gitu, lo terapin gak dalam kehidupan?".

"Tentu, dong, karena itu aku lebih suka baca buku nonfiksi, karena sangat applicable. Seringkali menolong kaum-kaum bingung seperti aku, hahahaha,"

Nah segitu aja dari aku hari ini, panjang banget ini tulisan aku, semoga ada manfaatnya! 😁

 Rujukan Kutipan: 

(1) Sendhil Mullainathan, Eldar Shafir, American Scientific Mind (2014), Freeing Up Intelligence: A preoccupation with scarcity diminishes IQ and self-control. Simple measures can help us counteract this cognitive tax, Halaman 60.
(2) Sendhil Mullainathan, Eldar Shafir, American Scientific Mind (2014), Freeing Up Intelligence: A preoccupation with scarcity diminishes IQ and self-control. Simple measures can help us counteract this cognitive tax, Halaman 61.

 

I highly appreciate your visit to the Linguistics Student Indonesia website. 
Linguistics Student Indonesia Founder


Let's build a network! Connect with Linguistics Student Indonesia:

Paid Partnership & Business Inquiries:
linguistics@post.com


Comments

  1. Uwu sama sama sayangkuhhh. Workout emang mengubah hidup bgt 🥺❤ Wah soal nggak perlu ngasih panggung hal2 yang ngga layak dikasih panggung bener banget, sih. Kadang gue suka gemes aja pengen ngomel, tp lama2 kok ya kayak ngedrain energi yg harusnya bisa digunakan utk appreciate hal2 yang lebih layak dikasih panggung. Terima kasih suci udah bikin artikel iniii bermanfaat bgt! 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, senang banget dikomen langsung sama Uti! Iya, ti. Lebih baik energinya simpan untuk build ourselves up. Hihi. Semangat berbagi dan aksimu di kala workout membuatku lebih dari sekadar terinspirasi. Memang ya, orang yang melakukan sesuatu dengan tulus ikhlas, gak akan cuma menggerakan hati orang yang melihatnya, tapi juga bisa membuat kakinya melangkah dan bergerak. You're such an inspiration, sending you so much love! 😍😍😍

      Delete
  2. Terima kasih juga sudah memberi limpahan afeksi yang gak habis-habis. Senang membaca ini. Membuktikan bahwa waktu menemani kita untuk benar-benar membuka mata dalam memilih langkah yang tepat, selagi mau untuk mengupayakan.

    Tulisan gue masih kerjaan mulu nih, ntar gue susul ah bikin beginian wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waktu menemani sama sepertimu, Tiw. Kasih sayangmu, ilmumu sudah banyak terwaris. Tak hanya dukungan, tapi juga saran dan dorongan untuk terus berusaha. Terima kasih juga Tiwi, karena terus bekerja karena kamu dan kerjaanmu adalah salah satu yang kuidolakan darimu. KERJA! KERJA! KERJA! itulah Tiwi, sedikit bicara banyak beraksi.

      Susul aku ya, sayang wkwkwk 😍😍😍

      Delete

Post a Comment